[FF] ~1~

The meaning of the 4 seasons

(Arti dari sebuah musim yang indah)

BGM: EXO – K – Baby Don’t Cry

EXO – K – Don’t Go

Park Kyuri POV

Aku bertemu dengannya pada musim gugur 1 tahun yang lalu. Jika aku memikirkan kembali bagaimana kami bertemu, rasanya aku ingin tertawa. Pertemuan kami berawal hanya karena tidak sengaja saat itu, aku melihatnya tengah menangis disebuah bangku taman. Awalnya aku pikir, siapa pria cengeng yang menangis ditengah musim yang menakjubkan seperti ini? Dan pada saat itulah aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Dia terkejut. Sangat. Dan menatapku tidak suka. Mungkin dia kesal karena dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tapi aku hanya tersenyum dan berkata padanya,

“Boleh aku duduk disini?”

Dia tidak menjawab untuk beberapa saat dan akhirnya mengangguk sambil menatapku seakan-akan mengatakan ‘memangnya tidak ada tempat lain selain disini?’

“Aku senang pemandangan disini. Jadi maaf jika aku mengganggumu.” ujarku tiba-tiba dan dia akhirnya hanya mendengus dan kembali terdiam. Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Lalu tiba-tiba saja dia memecah keheningan diantara kami. Dia bertanya padaku,

“Apa kau suka musim gugur?”

“Ya. Pada dasarnya aku suka semua musim.” jawabku singkat dan menatapnya dengan ekor mataku sekilas lalu kembali fokus menatap pepohononan yang saling berguguran. Hawa sejuk membuatku sangat nyaman.

“Kenapa?” tanyanya kembali. Matanya menatap lurus ke dedaunan oranye yang berserakan disekitar kami.

“Karena musim ini merupakan musim yang kaya dan memuaskan. Ibuku pernah mengatakan padaku bahwa musim gugur adalah musim dimana penuh dengan rasa syukur dan saling berbagi kasih sayang. Setelah kita bekerja keras di musim panas, musim inilah saatnya kita untuk sedikit bersantai. Lagipula pemandangan pohon-pohon yang berguguran ini benar-benar indah.”

“Cih” ujarnya pelan membuatku menoleh.

“Ada apa? Apa kau membenci musim gugur?” tanyaku dan dia tidak menjawabnya.

“Aku tidak memaksamu untuk menjawab. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing.” ujarku menekan rasa penasaranku. Dia tidak menjawab ataupun berkata sepatah katapun. Tapi aku bisa melihat matanya yang sendu dan dia terlihat lelah sekali.

“Aku… benci musim gugur.” ujarnya tiba-tiba membuatku tersentak dan menatapnya. Aku tidak berani mengeluarkan suaraku untuk bertanya, dan sebagai gantinya dia terus berceloteh dan aku mendengarkannya dengan seksama.

“Aku benci musim ini. Daun-daun mengering berjatuhan dan mati. Semuanya hilang. Dan warna oranye kuning ini benar-benar tidak enak dilihat. Semua orang harus bekerja keras nantinya untuk membersihkan sisa-sisa daun kering ini. Belum lagi pohon-pohon yang gundul ini.”

Aku terdiam. Semua yang dia katakan memang benar.

“Aku tahu. Tapi bukankah kita harus mengalami kematian untuk bisa kembali hidup? Bayangkan benih-benih baru yang akan muncul nantinya. Semua makhluk pasti akan mati dan pada saatnya mereka akan kembali hidup dengan sosok yang lebih baik lagi. Itulah yang diajarkan oleh ibuku, dan aku mempercayainya.” ujarku dan dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menunduk dan terus menghela nafas berat. Wajahnya begitu sendu dan sepertinya dia menanggung beban yang berat.

Entah pada saat itu karena aku merasa kasihan padanya. Aku tiba-tiba menjulurkan tanganku dan memeluknya.

“Kalau kau memiliki masalah, jangan lupakan bahwa kau memiliki banyak orang yang menyayangimu. Jangan merasa terbebani. Keluarkan saja semua yang menjadi pikiranmu.” ujarku dan dia hanya terdiam. Dia tidak marah ataupun mengelak ketika aku tiba-tiba memeluknya. Lalu beberapa saat kemudian aku bisa merasakan dirinya terisak. Pria yang rapuh. Aku bisa merasakan kesedihan yang dalam disetiap isakan tangisnya dan dia membenamkan wajahnya di pundakku. Aku mengusap kepalanya pelan. Dia seperti anak anjing yang hilang. Tidak tahu harus kemana dan tidak tau harus berlindung pada siapa.

Untuk beberapa saat dia terus menangis dan aku terus mengusap kepalanya. Aneh. Kami bahkan belum mengenal sama sekali tapi kenapa aku merasanya nyaman hanya dengan memeluknya seperti ini?

Dan itulah awal dari kedekatan kami. Dan dari situlah kami menjadi sering bertemu, ditaman itu. Dibangku yang sama dan di jam yang sama. Dan pada akhirnya aku mengetahui bahwa namanya adalah Byun Baekhyun. Dia mengenalkan namanya dengan malu-malu padaku. Dan aku langsung melotot kaget ketika mengetahui namanya. Siapa yang tidak mengenal Byun Baekhyun? Salah seorang Main Vocalist dari sebuah grup yang sedang memuncak saat ini, EXO. Walaupun aku mengetahui dia artis, tapi tidak menjadikanku canggung. Aku bersikap layaknya teman dan sahabat. Aku rela tidak tidur hanya untuk mendengarnya mengeluh setiap tengah malah akibat jadwalnya yang begitu padat. Aku rela untuk berlari dari kantorku menuju taman itu hanya untuk bertemu dengannya yang tiba-tiba memelukku dan menangis. Dia bilang dia tidak pernah berani menangis di depan member yang lain, dia hanya menangis didepanku. Hanya aku. Apakah itu suatu tanda bahwa aku spesial dimatanya?

“Ya, baekhyun-ya, memangnya kau tidak sibuk sampai kau terus-terusan datang kesini? Kaukan artis memangnya kau tidak punya jadwal atau apa?” tanyaku suatu hari ketika dia tiba-tiba menyuruhku datang ke taman hanya untuk menemaninya. Saat itu musim gugur kembali menemani kami. Dia langsung menyuruhku duduk di rumput dan dia tertidur dengan kakiku sebagai bantalnya. Dia kelihatan amat sangat lelah.

“Aku kabur. Aku lelah. Aku butuh tidur.” ujarnya cepat dan matanya masih tertutup. Aku merengut.

“Kau tidak boleh seperti itu. Semua orang bekerja keras. Masa kau lari dari tanggung jawabmu? Kau tidak boleh menyusahkan semua orang seperti itu. Ingat bagaimana perasaan mereka.” nasihatku dan dia membuka matanya dan memandangku ketus.

“Jadi kau lebih mementingkan perasaan mereka daripada aku?”

“Bukan begitu. Maksudku, mereka juga sama-sama berjuang denganmu. Mereka juga merasakan hal yang sama denganmu. Kau tidak boleh egois dengan kabur seenaknya. Kau mau membuat orang lain susah?” ujarku dan dia tiba-tiba bangkit dan menatapku tajam.

“Aku pikir kau mengerti dan bisa menolongku, tapi kenyataannya kau sama seperti orang lain.” ujarnya dan pergi begitu saja. Aku terpaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan atau aku lakukan. Aku hanya bisa menatapnya dan membiarkannya pergi.

Dan itulah saat terakhir aku bertemu dengannya. Dia semakin sulit dihubungi setelahnya. Dan ketika aku datang kembali ke taman, aku tidak bisa menemukannya. Dan ketika aku menunggunya, dia tidak datang. Kami bertemu musim gugur 1 tahun yang lalu, dan berpisah pada musim gugur 1 tahun kemudian. Benar-benar ironis.

Musim telah berganti menjadi musim dingin. Aku berusaha untuk melupakan Baekhyun tetapi pada kenyataannya sulit. Aku sering melihatnya di televisi dan selalu menahan diri ketika semua temanku menjerit sambil mengatakan bahwa dia tampan. Aku tahu. Aku tahu bahwa dia memang tampan. Tidak, dia mempesona. Dia bukan hanya artis yang mengandalkan wajah, tapi dia juga memiliki kemampuan yang luar biasa.

Setiap kali aku melihat iklannya di jalan, aku harus menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa atau menangis. Tapi itu sulit. Kadang aku harus menyembunyikan isak tangisku diantara salju musim dingin yang berjatuhan.

Dan pada suatu malam, ketika malam natal, aku memberanikan diri mengirim sebuah pesan kepadanya. Aku tidak tahu apakah dia masih menggunakan nomor ini atau sudah menggantinya. Aku hanya berharap, dia membancanya dan kami bisa menjadi teman seperti dulu lagi.

To: Baekyun-ah

subj: Annyeong J

Baekhyun-ah, saat ini sudah musim dingin.

Itu artinya sudah 2 bulan kita tidak bertemu. Apa kau

tidak merindukanku sama sekali? kkkkk.

Ah…. hari ini hari natal. Aku sebenarnya ingin sekali

merayakan natal denganmu, tapi aku tau bagaimana

sibuknya kau dengan melejitnya kau sekarang J

Jadi aku hanya berharap bahwa kau dapat menjaga

kesehatanmu. Jangan terlalu banyak membebani

pikiranmu. Ingat, kau tidak pernah sendiri n___n

Hari ini karena tidak ada kerjaan, aku berniat untuk

pergi ke taman itu lagi… Udara memang dingin tapi

aku merindukannya. Datanglah jika kau ada waktu ya J

Tapi jangan memaksakan diri.

 

-Park Kyuri-

Aku menimbang-nimbang sebelum akhirnya menekan tombol ‘send’. Aku menatap layarnya cukup lama dan berharap bahwa keajaiban muncul dan dia membalas pesanku. Tapi hampir setengah jam aku menunggu, layarku tidak menunjukan satu pesan masuk. Maka, aku melempar ponselku kedalam tas, mengambil mantel dan pergi. Aku ingin pergi ke taman itu… aku ingin mencoba peruntungan terakhirku.

***

Taman terlihat sepi karena semua orang sedang merayakan natal bersama keluarganya dirumah. Seandainya saja aku memiliki keluarga. Sayangnya kedua orangtuaku sudah lama meninggal akibat kecelakaan dan aku tinggal denga nenek yang juga baru saja meninggal 2 tahun yang lalu. Tepat saat musim dingin. Itulah mengapa aku sedikit sensitif dengan musim satu ini.

Aku menatap bangku yang biasa aku duduki kosong tertutup salju. Aku berjalan pelan dan duduk. Menatap jalan yang dulu penuh dengan daun coklat kemerahan berguguran kini berubah menjadi jalan biasa dengan tumpukan salju. Aku merasa kesepian. Suasana sangat hening disekitarku dan aku mendengar bunyi kembang api dikejauhan. Semua orang tertawa. semua orang bahagia. Tapi kenapa aku sendirian terjebak disini? Dikegelapan malam. Dadaku terasa sesak. Rasa sakit yang selama ini aku acuhkan seperti muncul secara bersamaan dan menghujatku. Aku masih mengingat natal terakhirku bersama appa dan eomma. Mereka mengelilingiku, memberiku hadiah dan menciumiku bergantian. Dan aku juga masih ingat bagaimana halmeoni memasakanku kue tar besar saat natal 3 tahun yang lalu. Dulu aku bahagia, tapi kenapa sekarang aku begitu hancur?

Tanpa sadar aku terisak. Aku tidak memiliki siapa-siapa untuk bersandar. Aku tidak memiliki siapa-siapa untuk menjagaku tetap bertahan. Aku benci musim dingin. Kenapa semuanya harus gelap, suram dan dingin?

Dan disaat kesendirianku, aku merasakan ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk. Dan dengan mata yang kabur akibat menangis, aku membuka pesan tersebut dan membacanya.

‘Aku ada disini…’

Belum sempat aku berpikir siapa pengirim pesan ini, tiba-tiba seseorang merangkulku dari belakang. Tangannya terasa dingin karena dia tidak mengenakan sarung tangan. Nafasnya yang memburu mengenai leherku. Dan aku bisa merasakan rambutnya yang halus. Dia masih sama seperti terakhir kami bertemu. Tidak berubah.

“Aku tau kau pasti datang.” ujarku pelan. Dia tidak menanggapi ucapanku. Lalu aku merasakan air mataku mengalir. Aku tidak tahu ini merupakan air mata kebahagiaan, atau air mata frustasi atas beban yang selama ini selalu aku sembunyikan. Baekhyun berputar, dan duduk disebelahku. Dia menatapku sebentar sebelum akhirnya memelukku. Aku merasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhku dan meruntuhkan pertahananku. Aku menangis terisak. Dia mendekapku semakin dalam dan mengelus rambutku.

“Sekarang keadaannya berbalik. Dulu kau yang menyelamatkanku dengan memelukku tiba-tiba dan mengelus rambutku seperti ini. 1 tahun yang lalu.” ujarnya pelan. Aku tidak menjawab apapun. Rasanya nyaman sekali mengeluarkan semuanya dengan menangis. Rasanya semua beban yang selalu aku anggap tidak ada kini terangkat. Dan bagaimaa tangan baekhyun yang melindungiku benar-benar membuatku jauh lebih baik.

“Mianhaeyo.. karena meninggalkanmu terlalu lama. Dan tidak pernah tahu bahwa kau juga serapuh ini..” ujarnya lagi. Dan aku menggeleng.

“Aniyo..aku yang minta maaf. Aku..aku…” ujarku terbata-bata sambil menangis. Tapi pria ini hanya memelukku erat seakan menyuruhku untuk diam. Aku mengikutinya. Di tengah musim salju yang dingin kami berdua terdiam.

***

Dan saat ini, disinilah aku. Duduk disebuah bangku sambil menatap bunga-bungan dan pucuk-pucuk daun yang mulai merekah disana-sini. Ini sudah memasuki musim semi. Aku tersenyum. Aku jadi ingat perkataan eomma mengenai musim ini,

‘Musim semi, adalah musim ketika cinta datang dan mulai merekah tanpa kita sadari, musim dimana kita tergila-gila akan cinta dan merasa dikelilingi oleh bunga. Musim dimana kita melihat pasangan kita, sebagai orang yang paling sempurna yang kita temui.’

Ya eomma, aku merasakan musim semi dalam diriku sekarang. Dan orang sempurna itu ada disini, bersamaku. Duduk disebelahku sambil sibuk memainkan bolpoinnya dan menulis beberapa not lagu. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung dan keningnya berkerut karena memikirkan sesuatu. Ia mengenakan topi rajutan dan syal yang menutupi separuh wajahnya. Karena kini dia adalah artis terkenal, dia tidak bisa sembarangan keluar tanpa memakai penyamarannya. Tapi di taman ini, kami tidak merasakan ancama apapun.

Kami dipertemukan di sebuah musim gugur yang indah dan tenang. Kami juga dipersatukan kembali di musim dingin yang lembut dan hangat. Dan kini kami kembali bersama di musim semi yang menakjubkan. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami pada musim panas, tapi apapun itu, selama dia berada disisiku, aku rasa aku bisa menjalani segalanya dengan baik-baik saja.

****

Geje? MASBULOH? ini dibikin cuman byat kesenangan sendiri dan sebenarnya bukan untuk di publikasikan.. tapi karena takut lupa nanti ya udahlah -_- Jangan dibaca kalo emang ga suka. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s